MAKALAH KOMUNIKASI ORGANISASI

 



 

UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Dinda Nazwa Pradhitia

202210415283 / 3A1

 

 

 

 

 

 

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL

TAHUN AKADEMIK 2023/2024


BAB 1

KONSEP-KONSEP DASAR KOMUNIKASI

 

  1. Definisi Komunikasi

Komunikasi secara etimologis merupakan terjemahan dari bahasa Inggris communication. Communication berasal dari bahasa latin yaitu communis yang artinya “sama atau bermakna sama”. Komunikasi merupakan proses interaksi yang terjadi  antara dua orang atau lebih. Pesan komunikasi biasanya berupa gagasan atau pikiran yang diwujudkan berupa simbol mengandung makna dan dimengerti oleh pelaku satu sama lain. Komunikasi akan berlangsung apabila antara orang-orang pelaku komunikasi yang terlibat terdapat makna arti yang sama mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Sebaliknya jika pelaku tidak memiliki makna yang sama terkait suatu hal, maka komunikasi tidak kana terjadi.

Komunikasi secara terminologis merupakan proses penyampaian pertanyaan dari seseorang kepada orang lain. Jadi, pada proses komunikasi yang terlibat adalah manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial yang pada setiap proses kehidupannya pasti membutuhkan orang lain.

Komunikasi secara paradigmatis artinya bahwa komunikasi selalu mempunyai tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, bisa juga dilakukan melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi atau film, media sosial maupun media non massa, seperti surat, telepon, papan pengumuman, poster, spanduk dan lainnya. Pada era 4.0 atau dikenal dengan era digitalisasi  komunikasi mengalami pergeseran dari media mainstream ke media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp dan lain-lain. Jadi secara paradigmatis, komunikasi bersifat intensional (intentional), mengandung tujuan; karena harus dilakukan sesuai perencanaan. Sejauh mana takaran perencanaan, bergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran.

            Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tujuan tertentu. Menurut Muhammad (2005), pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dimungkiri begitu pula halnya bagi suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik dalam suatu organisasi, maka tujuan organisasi tersebut akan berjalan dengan lancar dan berhasil. Sebaliknya, jika komunikasi didalam suatu organisasi tidak berjalan dengan baik, maka akan mengganggu komunikasi didalam organisasi tersebut.

Komunikasi seringkali dikaitkan dengan kehidupan bermasyarakat, dimana setiap orang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Melakukan komunikasi berarti setiap manusia memberikan suatu aksi dan reaksi, dimana reaksi merupakan bentuk respon dari aksi manusia tersebut. Menurut Forsdale (1981), komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara dan diubah. Definisi komunikasi juga dipandang sebagai suatu proses. Kata signal artinya signal yang berupa verbal dan non verbal yang mempunyai aturan tertentu. Dengan adanya aturan ini membuat orang yang menerima signal yang telah mengetahui aturannya akan dapat memahami maksud dari signal yang diterimanya. Misalnya setiap bahasa mempunyai aturan tertentu baik bahasa lisan,  isyarat maupun tulisan.

Menurut Brent D. Ruben (1988) menjelaskan definisi mengenai komunikasi manusia yang lebih komprehensif sebagai berikut: “Komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain”.

  1. Model Komunikasi

Model merupakan gambaran analogi yang menyajikan dan memilih bagian dari keseluruhan dengan tujuan untuk mempermudah memahami suatu fenomena.  Model menerangkan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Menurut Aubrey Fisher model merupakan analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model-model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan suatu teori.

Menurut Deutsch (1966) ada empat fungsi model, yaitu diantaranya:

1. Organizing function yaitu mengorganisasikan (kemiripan data dan hubungan) yang tadinya tidak teramati. Suatu model memberi gambaran umum suatu keadaan tertentu yang berbeda.

2. Explaining yaitu menunjukkan fakta-fakta dan metode baru yang tdk diketahui (heuristik)

3. To predict yaitu sebuah model memungkinkan kita untuk memprediksi outcome atau keadaan dari suatu peristiwa.

4.  Mengukur fenomena (pengukuran)

            Deutsch menjelaskan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menilai model yaitu orisinalitas model, seberapa banyak pandangan baru yang ditawarkan?, Bagaimana kesederhanaan dan kehematan model tersebut?, seberapa nyata model tersebut, seberapa jauh kita bergantung pada model tersebut sebagai representasi realitas fisik?.

Beberapa model komunikasi menurut para ahli:

Model Menurut  Harold Laswell

Harold Laswell 1948 adalah seorang ilmuwan dalam bidang ilmu politik dari Yale University menyebutkan sebuah model komunikasi yang mungkin paling dikenal sepanjang masa. Model ini muncul pada perkembangan studi Laswell tentang propaganda politik. Model ini adalah pandangan umum yang berisi tentang komunikasi yang berkembang melalui batasan ilmu politik. Menurut Laswell,  persoalan komunikasi menyangkut 5 pertanyaan sederhana yaitu :

1.     Who? (siapa)

2.     Say What? (mengatakan apa)

3.     In Which Channel? (melalui saluran apa)

4.     To Whom? (kepada siapa)

5.     With What Effect? (dengan akibat apa)

 

            Model Shannon dan Weaver (1949)

Menurut Shannon dan Weaver (1949) melihat komunikasi sebagai proses pemancaran pesan. Claude Shannon Warren Weaver mereka bukanlah seorang ilmuwan sosial tetapi merupakan insinyur yang bekerja untuk laboratorium telephone Bell di Amerika Serikat. Mereka mempunyai tujuan khusus yaitu memastikan “the maximum efficiency” dari kabel telephone dan gelombnag radio. Pada dasarnya mereka mengembangkan model komunikasi untuk membantu mengembangkan sebuah teori matematis dari komunikasi (Chandler).

1.     Sumber informasi (information source)

2.     Transmitter

3.     Penyandian ( Encoding ) pesan

4.     Penerimaan dan Encoding

5.     Tujuan  Destination) Komponen terakhir Sh

6.     Sumber Gangguan ( Noise )

 

Model Komunikasi Melvin De Fleur (1966)

Menurut Melvin De Fleur (1966) model ini cocok untuk menggambarkan proses komunikasi melalui media massa (komunikasi massa) di dalam model komunikasi ini terdapat 8 komponen yang mempunyai proses komunikasi massa yaitu:

1.     Sumber (source)

2.     Pemancar (transmitter)

3.     Saluran (chanel)

4.     Penerima (receiver)

5.     Tujuan (destination)

6.     Gangguan (noise)

7.     Sarana medium massa (mass medium device)

8.     Sarana penyampaian umpan balik (feedback device)

 

 Model Berlo (1960)

Model komunikasi Berlo biasanya dikenal dengan model SMCR (Source, Message, Channel, Receiver). Model ini menekankan pada efektivitas komunikasi serta menekankan pada ide bahwa meaning are in the people yang memiliki arti pesan yang dikirim pada orang yang menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri.

            Model ini hanya memperlihatkan sebuah proses komunikasi yang terjadi pada satu arah serta di dalam prosesnya hanya terdiri dari empat komponen tersebut, yaitu sumber pesan, saluran dan penerima atau receiver. Menurut Berlo 1960 semua elemen ini sangat penting dalam menyampaikan pesan dalam memastikan jalannya komunikasi. Model ini menganggap semua unsur yang terjadi pada komunikasi sangat menentukan proses terjadinya komunikasi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

 

Model S-O-R (Stimulus Organism Respon), Houland

Model ini merupakan model komunikasi yang paling dasar. Di dalam model ini sangat dipengaruhi disiplin psikologi khususnya yang beraliran behavioristik. Hal ini terjadi karena psikologi dalam komunikasi memiliki objek kajian yang sama, yaitu jiwa manusia yang berisi tentang sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi. Hal ini merupakan asumsi dasar teori S-O-R yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku yang bergantung pada kualitas stimulus yang berkomunikasi. 

Model komunikasi ini merupakan suatu proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Contohnya seperti ketika saya tersenyum kepada anda dan anda membalas senyuman saya, itulah model S-R. Model ini memiliki asumsi kata-kata, isyarat, non verbal, gambar dan tindakan. Hal itulah yang mengakibatkan orang lain memberikan respon dengan cara tertentu, model ini mengabaikan adanya faktor manusia seperti sistem internal individu.

 

Model Aristoteles

Aristoteles merupakan filosof yang berasal dari Yunani, tokoh ini paling dini mengkaji komunikasi, yang intinya komunikasi adalah persuasi. Model Aristoteles biasanya dikenal yang paling klasik atau disebut juga model retoris. Menurut Mulyana (2005:134) oleh karena itu model ini merupakan penggambaran dari komunikasi retoris atau komunikasi publik dan pidato.

Menurut Aristoteles mengemukakan tiga unsur yang harus terdapat dalam proses komunikasi:

1.     Pembicara (speaker)

2.     Pesan (message)

3.     Pendengar (listener)

Sedangkan proses komunikasi persuasif  menurut Aristoteles proses komunikasi persuasif ada tiga faktor yang harus dipenuhi.

1.     Siapa anda (etos kepercayaan anda)

2.     Apa argumen anda (logos logika dalam pendapat anda)

3.     Dan dengan memainkan emosi khalayak (pathos-emosi khalayak)

Model ini memiliki kelemahan yaitu proses komunikasi yang sering dipandang sebagai suatu yang statis dan tidak memperdulikan saluran serta umpan balik dan kendala yang terjadi pada proses komunikasi. Model Aristoteles juga berfokus pada komunikasi yang disengaja (komunikator mempunyai keinginan secara sadar untuk merubah sikap orang lain).

 

            Model Komunikasi Wilbur Schramm

Wilbur Schramm adalah seorang ahli komunikasi yang memberikan pengaruh cukup besar dalam memfasilitasi penggunaan model komunikasi linear pada tahun 1950 an. Model ini kemudian bergerak untuk mengembangkan komunikasi relasional di tahun 1973. Wilbur Schramm membuat beberapa serangkaian model komunikasi manusia yang sederhana lalu lebih rumit dan memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi. Model ini memperkenalkan gagasan bahwa persamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran yang sebenarnya harus dikomunikasikan. Sumber ini harus dapat menyandi pesan dan tujuan dapat menyandi balik pesan, tergantung dari pengalaman mereka masing-masing. Makin besar daerah komunikasi akan berpengaruh pada pengalaman yang dimiliki oleh keduanya. Menurut Schramm di dalam proses komunikasi sangat jelas menjadi encoder dan decoder. Proses kembali di dalam model ini disebut feedback yang memainkan peran penting dalam komunikasi, hal tersebut berguna untuk mengetahui bagaimana pesan kita ditafsirkan.

             Model Helical Dance

Model komunikasi Helical dapat dikaji sebagai pengembangan dari model sirkular dari Osgood & Schramm, ketika membandingkan model komunikasi linear dan sirkular. Dance mengatakan bahwa dewasa ini kebanyakan orang menganggap bahwa pendekatan sirkular adalah paling tepat dalam menjelaskan proses komunikasi.

Helix, yakni suatu bentuk melingkar yang semakin besar menunjukkan perhatian kepada suatu fakta bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang dikomunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikan yang akan datang menyusul.

 

Model Seiler

Menurut William J. Seiler ( 1988 ) model komunikasi terdapat dua arah dan bersifat lebih universal. Menurut Seiler Source atau pengirim pesan mempunyai empat peran yaitu:

1. menentukan arti apa yang akan dikomunikasikan

2. Menyandikan arti ke dalam suatu pesan

3. Pengirim pesan dan mengamati

4, Bereaksi terhadap respon dari penerima pesan

 

  1. Komponen Dasar Komunikasi

Komponen dasar komunikasi meliputi:

a.     Source (Sumber)

Sumber merupakan dasar yang digunakan di dalam penyampaian pesan dengan tujuan untuk memperkuat pesan itu sendiri.

b.     Communicator / komunikator (Pengirim pesan)

Komunikator biasanya berupa individu yang sedang berbicara atau menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi seperti surat kabar, televisi, radio dan lain-lain.

c.     Message (Pesan)

Pesan adalah sebuah simbol yang mengandung makna dan dipilih oleh komunikator untuk disampaikan kepada komunikan. Pesan ini dapat berupa verbal (lisan maupun tulisan) dan nonverbal (tidak menggunakan kata-kata).

d.     Channel (Saluran atau media)

Chanel atau saluran merupakan alat untuk menyalurkan suatu pesan komunikasi dari komunikator kepada komunikan. Chanel biasanya berupa media elektronik, media sosial dan media cetak.

e.     Communicant / komunikan (penerima pesan)

Komunikan adalah orang yang menerima pesan yang telah disampaikan oleh komunikator baik secara langsung maupun menggunakan media.

f.       Effect (hasil)

Hasil merupakan dampak yang terjadi pada komunikan setelah mendapatkan pesan komunikasi dari komunikator. Hasil antar-Effect adalah hasil dari suatu komunikasi, yaitu sesuai atau tidaknya sikap dan tingkah laku seseorang. Jika sikap dan tingkah laku orang tersebut sesuai, maka komunikasi dinyatakan berhasil.  Efek komunikasi bisa berupa pengetahuan, sikap atau perilaku komunikan.

g.     Feedback (umpan balik)

Feedback merupakan umpan balik berupa respon yang dikembalikan oleh komunikan kepada komunikator setelah mendapatkan pesan komunikasi dari komunikator.

h.     Noise (gangguan)

Gangguan merupakan hambatan tidak direncanakan yang terjadi pada saat berlangsungnya proses komunikasi, akibatnya pesan yang diterima oleh komunikan berbeda dengan pesan yang sudah disampaikan oleh komunikator kepadanya.

 

  1. Prinsip Komunikasi

Setiap manusia mempunyai potensi untuk diartikan sebagai komunikasi, kita selalu berkomunikasi, bahkan saat berdiam diri. Berdiam bisa berarti sesuatu, tetapi tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Komunikasi bisa saja tercipta ketika seseorang memberi makna pada perilakunya sendiri atau perilaku orang lain. Komunikasi adalah hal yang sebisa mungkin harus bisa dikontrol, seefektif mungkin menggunakan segala macam aspek perilaku kita karena segala sesuatu mengenai diri kita itu kita komunikasikan baik kita sadari maupun tidak. Tidak hanya berupa kata yang kita ucapkan, melainkan bisa berupa cara kita berpakaian, cara kita berjalan, cara kita mengeluh, cara kita berterimakasih, cara kita melakukan kontak mata atau menghindari kontak mata mengkomunikasikan semuanya.

Menurut Devito (1989:24) ia mengatakan jika kita berharap untuk sebisa mungkin memahami orang lain, kita perlu memperhatikan pesan dan makna yang tidak secara jelas dikirimkan oleh mereka seperti pesan yang terkirim dari baju, gerakan tubuh, kontak mata bahkan diam.

Prinsip komunikasi ada 9 yaitu:

 

1.     Komunikasi Mempunyai Isi Dimensi dan Hubungan

Dimensi isi (verbal) menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu seusai apa yang dikatakan. Dimensi hubungan (non verbal), menunjukkan bagaimana cara mengatakannya untuk bisa mengisyaratkan bagaimana pesan itu ditafsirkan. Berdasarkan tinjauan komunikasi antar pribadi, dijelaskan bahwa secara umum pria lebih fokus pada dimensi isi sedangkan wanita lebih fokus pada dimensi hubungan.

2.     Komunikasi itu Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat Kesengajaan

Tingkat komunikasi bisa berlangsung secara disengaja maupun tidak disengaja. Meskipun kita sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita berpotensi untuk dinilai oleh orang lain. Kita lebih sering mengeluarkan pesan non verbal yang tidak disengaja dibanding pesan verbal.  

3.     Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang dan Waktu

Makna sebuah pesan tergantung pada konteks fisik/ruang, waktu, sosial dan psikologis. Makna setiap pesan belum tentu sama dalam konteks ruang atau waktu yang berbeda. Artinya, setiap konteks memiliki ruang dan waktunya tersendiri, mereka mempunyai masing-masing situasi yang berbeda.

4.     Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi

Setiap individu mempunyai efek komunikasi yang akan mereka ramalkan saat sedang melakukan komunikasi. Komunikasi terikat aturan dan tata krama, artinya kita bisa memprediksi perilaku orang lain berdasarkan peran sosial yang dimilikinya, misalnya kita tahu bagaimana tata krama berbahasa saat sedang berkomunikasi dengan orang tua.  Komunikasi terikat oleh aturan dan etika, artinya prediksi tersebut tidak selalu disadari dan berlangsung cepat. Pada derajat tertentu ada keteraturan perilaku manusia sehingga dapat diprediksi.

5.     Komunikasi itu bersifat Sistematik

Ada dua sistem dasar dalam transaksi komunikasi:

1.     Sistem Internal, yaitu seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika memasuki situasi komunikasi Sistem Internal mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik (kepribadian, pengetahuan, agama, dll) yang pada umumnya bersifat tersembunyi frame of reference & field of experience.

2.     Sistem Eksternal, terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu, seperti kata-kata yang dipilih untuk melakukan komunikasi, isyarat fisik peserta komunikasi, yang terjadi disekitarnya, penataan ruangan, cahaya dan temperatur ruang.

            Semakin mirip latar belakang sosial budaya seseorang, maka akan semakin efektif pula proses komunikasi yang berlangsung. Komunikasi yang efektif yaitu komunikasi yang hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan (pihak yang melakukan komunikasi). Kesamaan latar belakang  para pelaku komunikasi membuat suatu situasi komunikasi lebih mudah mencapai keefektifan. Kesamaan umur, suku, bahasa, tingkat pendidikan juga bisa menjadi pendorong komunikasi bisa berlangsung secara efektif.

6.     Komunikasi Bersifat Konsekuensial

Pada situasi komunikasi, kebanyakan situasi tersebut bersifat dua arah. Meskipun ada dua model komunikasi linear atau satu arah, tetapi pada akhirnya komunikasi tersebut akan bersifat dua arah, karena komunikasi akan menimbulkan umpan balik. Oleh  karena itu komunikator dan komunikan dalam suatu percakapan komunikasi antar 2 individu atau lebih akan terus berganti. Sehingga sudah tidak bisa dibedakan lagi antara pesan dan umpan balik.

7.     Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis dan Transaksional

Proses komunikasi disebut proses  yang berkesinambungan, artinya tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir. Komunikasi itu bersifat dinamis, artinya pada komunikasi melibatkan sebuah proses proses penyesuaian. Komunikasi bersifat transaksional karena pada saat yang bersamaan kita melakukan encoding dan decoding diwaktu yang bersamaan saat kita mengirim dan menerima pesan. Implikasi komunikasi dari sebagai proses yang dinamis dan transaksional yaitu bahwa peserta komunikasi berubah (dari hanya sekedar pengetahuan hingga perubahan dalam memandang dunia yang akhirnya mengarah pada perubahan tingkah laku). 

8.     Komunikasi Bersifat Irreversible

Beberapa sistem sifatnya dapat ditarik atau diulang kembali. Tetapi ada sistem yang bersifat irreversibel prosesnya hanya berfokus pada satu arah dan tidak bisa kembali ke arah sebelumnya, dan komunikasi termasuk ke dalam sistem ini. Komunikasi merupakan suatu proses yang tidak bisa ditarik kembali, tindakan komunikasi yang telah terjadi tidak mungkin bisa ditarik kembali. Sekali kita mengirimkan pesan, kita tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut kepada khalayak apalagi sampaikan menghilangkan efek pesan tersebut.

Menurut Devito (1989:25) bahkan karena sifat irreversible-nya kita perlu waktu untuk mempertahankan atau membenarkan perilaku kita yang diterima orang lain secara negatif. Metode paling umum kita gunakan untuk menghadapi reaksi negatif dari tiap individu lain terhadap perilaku kita adalah melakukan excuse atau belasan (berusaha melakukan pembenaran terhadap perilaku yang sudah kita lakukan dan menimbulkan reaksi negatif dari individu lain).

Sifat irreversible ini merupakan implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses yang akan selalu berubah. Prinsip ini yang akan menyadarkan bahwa kita harus berhati-hati dalam mengirimkan suatu suatu pesan kepada orang lain karena efeknya tidak dapat menghilangkan efek pesan tersebut meskipun kita sudah merubahnya.

9.     Komunikasi Bukan Panasea Untuk Menyelesaikan Berbagai Masalah 

            Banyak persoalan manusia yang disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea untuk menyelesaikan konflik tersebut, karena persoalan konflik tersebut bisa saja berkaitan dengan masalah struktural. Esensi dari suatu konflik harus tetap dicari dan diselesaikan.


BAB 2

KONSEP-KONSEP DASAR ORGANISASI

 

  1. Pengertian Organisasi

Organisasi berasal dari bahasa yunani yaitu Organon yang berarti “alat” (tool). Kata organisasi dalam bahasa Latin menjadi organizatio dan kemudian dalam bahasa Perancis (abad ke-14) menjadi organization. Organisasi merupakan satu kesatuan yang dibentuk secara sistematis berdasarkan ruang lingkup tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa orang yang terlibat dalam satu organisasi, biasanya mempunyai keterkaitan yang sama. Kelompok orang tersebut akan terus menerus beradaptasi dengan tujuan untuk menyelesaikan kepentingan bersama.

Menurut Prof. Dr. Mr Pradjudi Armosudiro organisasi merupakan kerangka pembagian kerja dan kerangka tata komunikasi kerja antara sekumpulan orang yang memegang posisi dan bekerjasama secara tertentu dan bersama-sama guna tercapainya tujuan tertentu.

Menurut Victor A. Thompson Organisasi merupakan suatu integrasi dari sejumlah orang yang ahli yang bekerja sama dengan sangat rasional dan impersonal untuk mencapai tujuan tujuan yang spesifik dan telah disepakati sebelumnya.

Menurut Stephen P. Robbins Organisasi adalah suatu entitas sosial yang secara sadar terkoordinasi, memiliki suatu batas yang relatif dapat diidentifikasi, dan berfungsi secara relatif kontinu (berkesinambungan) untuk mencapai suatu tujuan atau seperangkat tujuan bersama.

Menurut E. Wight Bakke Organisasi adalah suatu sistem berkelanjutan dari aktifitas-aktifitas manusia yang terdiferensiasi dan terkoordinasi, yang mempergunakan, mentransformasi, dan menyatupadukan seperangkat khusus manusia, material, modal, gagasan, dan sumber daya alam menjadi suatu kesatuan pemecahan masalah yang unik dalam rangka memuaskan kebutuhan-kebutuhan tertentu manusia dalam interaksinya dengan sistem sistem lain dari aktivitas manusia dan sumber daya dalam lingkungannya.

 

  1. Elemen Organisasi

Berdasarkan pemikiran Tom Peters dan Robert Waterman  pada tahun 1980, mereka ngembangkan model 7-S. Model 7-S merupakan kerangka efektivitas organisasi yang berfokus pada fungsi internal suatu organisasi. Model 7-S dimulai dari premis yang menyatakan bahwa organisasi tidak hanya berdiri dari suatu elemen struktur melainkan terdiri dari tujuh elemen yang selaras dalam mendukung tujuan organisasi. Ketujuh elemen tersebut diantaranya strategy (strategi), structure (struktur), system (sistem), shared value ( nilai bersama), style (gaya/corak), staff (staf), skills (kecakapan).

Secara keseluruhan model 7-S menekankan bahwa tujuan suatu organisasi dapat dicapai melalui tingkat kesesuaian yang tinggi antara kondisi dari tujuh elemen pembentuknya. Kondisi setiap “S” harus konsisten dan saling mendukung satu sama lain. Recklies (2001) mengatakan tidak mungkin untuk membuat kondisi suatu elemen lebih maju dibandingkan dengan kondisi elemen lainnya tanpa membuat kemajuan dalam kondisi semua elemennya. Dengan kata lain, jika ada kondisi satu elemen yang berubah maka perubahan itu akan mempengaruhi kondisi elemen-elemen yang lain. Menurut Pascale, terdapat suatu polaritas dari setiap elemen organisasi yang perlu untuk direkonsiliasikan, dimana untuk suatu keadaan, organisasi dapat dipetakan pada posisi tertentu pada kontinum yang terdapat dalam polaritas dari setiap elemen organisasi tersebut.

 

  1. Karakteristik Organisasi

Organisasi mempunyai lima karakteristik, yaitu:

1.     Unit / Entitas Sosial

Organisasi sering disebut sebagai artificial being, artinya rekayasa sosial hasil karya manusia (man-made) yang bersifat tidak kasat mata (intangible) dan abstrak. Oleh karena itu organisasi lebih kepada realitas sosial dibandingkan sebagai realitas fisik. Meski bukan realitas fisik, sebuah organisasi tetap membutuhkan fasilitas fisik seperti gedung, peralatan kantor atau mesin-mesin, karena dengan fasilitas fisik sebuah organisasi bisa melaksanakan kegiatannya. 

Sebagai entitas sosial, organisasi pada umumnya didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, bisa berumur puluhan atau ratusan tahun bahkan bisa mencapai waktu yang tidak terbatas. Keberadaan organisasi tidak selalu terkait dengan masih ada / tidaknya pendiri organisasi tersebut. Meski di dalam organisasi si pendiri organisasi tidak lagi terlibat dengan alasan apapun, hal tersebut tidak menyebabkan organisasi tersebut terpecah. Organisasi terkadang didirikan untuk jangka waktu tertentu (bersifat ad hoc) dan dengan sendirinya bubar atau dibubarkan.

2.     Beranggotakan Minimal Dua Orang

Sebagai hasil karya cipta manusia, organisasi biasanya didirikan oleh orang yang mempunyai kemampuan, pengetahuan, atau saran lainnya. Organisasi kadang biasanya didirikan oleh dua orang atau yang lebih yang mempunyai ide yang sama untuk membangun sebuah organisasi. Dalam sebuah organisasi tidak melihat siapa yang mendirikan atau berapapun banyaknya pendiri sebuah organisasi, yang pasti manusia dianggap sebagai unsur utama dari organisasi. Tanpa adanya keterlibatan manusia, entitas sosial tidak bisa dikatakan sebagai organisasi. Bahkan, bisa dikatakan bahwa tidak ada satupun organisasi yang di dalam kegiatannya tidak melibatkan manusia, keterlibatan manusia dalam organisasi adalah sebuah keharusan.. Organization is by people for people yang artinya organisasi didirikan manusia untuk kepentingan manusia.

Dalam organisasi seseorang tidak bisa bekerja sendiri, tidak bisa jika hanya melibatkan mesin atau robot, tetapi harus melibatkan orang lain. Salah satu persyaratan agar sebuah entitas sosial disebut organisasi adalah harus terdiri dari dua orang anggota atau lebih agar orang-orang tersebut bisa bekerja sama, melakukan pembagian kerja, dan terdapat spesialisasi dalam pekerjaan.

3.     Berpola Kerja yang Terstruktur

            Prasyarat organisasi harus beranggotakan minimal dua orang atau lebih belum bisa dikatakan sebagai organisasi, jika berkumpulnya orang tersebut tidak terkoordinasi dengan serta serta tidak memiliki pola kerja yang terstruktur.

4.     Mempunyai Tujuan

Organisasi didirikan bukan untuk siapa-siapa dan bukan  tanpa tujuan. Manusia menjadi elemen penting terhadap didirikannya sebuah organisasi. Organisasi didirikan karena manusia sebagai makhluk sosial, sulit untuk mencapai tujuan individualnya jika mengerjakannya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Manusia bisa bekerja sendiri, tetapi dengan bantuan orang lain pekerjaannya akan lebih efektif dan efisien melalui sebuah organisasi. Artinya, sebuah organisasi didirikan dengan tujuan agar sekelompok manusia yang bekerja dalam satu ikatan kerja lebih mudah mencapai target yang ingin dituju dibandingkan dengan mengerjakannya secara individu.

            Dalam sebuah organisasi, setiap orang pasti memiliki tujuan yang berbeda,  tetapi kesediaan mereka bergabung dalam sebuah organisasi menunjukkan bahwa mereka mempunyai kesepakatan untuk saling bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan, baik tujuan masing-masing individu  (tujuan anggota organisasi) maupun tujuan organisasi itu sendiri (tujuan para pendiri organisasi).

5.     Mempunyai Identitas Diri

Sekelompok manusia di dalam suatu organisasi untuk melakukan kegiatan, jadilah sekelompok manusia tersebut sebagai entitas sosial yang berbeda dengan entitas sosial lainnya. Perbedaan suatu entitas sosial satu sama lain sulit diduga karena beberapa alasan. Pertama, sifat organisasi yang intangible dan abstrak membuat seseorang sulit untuk ke dalam suatu organisasi. Kedua, organisasi sebagai subsistem dari sistem sosial yang lebih besar membuat para anggotanya saling berinteraksi dengan anggota masyarakat di luar organisasi. Ketiga, sering terjadi bahwa seseorang anggota organisasi juga berada di organisasi lain sehingga batasna organisasi seolah-olah menjadi tidak terkontrol kalau batasan tersebut hanya dilihat dari keanggotaan seseorang.

Meski demikian, bukan berarti sebuah organisasi tidak mempunyai batasan dan identitas diri. Secara formal identitas diri sebuah organisasi bisa dilihat melalui akta pendirian organisasi tersebut yang menjelaskan siapa yang menjadi bagian dari organisasi dan siapa yang bukan, kegiatan apa yang dilakukan, bagaimana organisasi diatur, atau siapa yang mengatur organisasi tersebut. Organisasi juga dapat diidentifikasi melalui variabel budaya yang yang sifatnya informal dan sulit dipahami, tetapi keberadaannya tidak diragukan. Menurut F. Landa Jocano yaitu seorang antropolog dari Filipina, ia menegaskan bahwa sekelompok orang yang bekerja sama tidak akan dikatakan sebagai organisasi manakala kelompok tersebut tidak mempunyai budaya. Jadi, dalam hal ini budaya dianggap sebagai variabel yang menjadi karakteristik sebuah organisasi dan membedakan organisasi tersebut dengan organisasi lainnya.

 

  1. Fungsi Organisasi

Mengikuti atau menjadi bagian dari sebuah organisasi merupakan bagian yang mempunyai dampak besar bagi kehidupan karena dalam sebuah organisasi bisa disebut sebagai masyarakat lingkup kecil. Di dalam organisasi selalu ada masalah yang harus dipecahkan bersama serta sikap saling menjaga dan tanggung jawab terhadap anggota organisasi tersebut. Penyelesaian masalah akan memberikan masukan terhadap masyarakat dari ruang lingkup luas. Sebuah organisasi didirikan pasti mempunyai fungsinya tersendiri, berikut adalah beberapa fungsi organisasi:

       Memenuhi kebutuhan pokok organisasi, yaitu untuk kelangsungan organisasi.

       Mengembangkan tugas dan tanggung jawab, artinya organisasi harus hidup sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi

       Memproduksi barang atau jasa, artinya semua organisasi mempunyai hasil produknya masing-masing. Efektivitas proses produksi tergantung pada ketepatan informasinya.

       Mempengaruhi dan dipengaruhi, artinya organisasi dapat mempengaruhi dan dapat juga dipengaruhi oleh orang.

 

BAB 3

PERSEPSI DAN KONSEP DASAR KOMUNIKASI ORGANISASI

 

  1. Persepsi Mengenai Komunikasi Organisasi

Persepsi mengenai komunikasi organisasi perlu diketahui sebagai dasar untuk memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi organisasi.

Beberapa persepsi terkait komunikasi organisasi:

1.     Menurut Redding dan Sanborn, Komunikasi organisasi adalah adalah pengiriman dan penerimaan  informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk bidang ini adalah:

       Komunikasi internal

       Hubungan manusia

       Hubungan persatuan pengelola

       Komunikasi downward (komunikasi dari atasan kepada bawahan)

       Komunikasi upward (komunikasi dari bawahan kepada atasan)

       Komunikasi horizontal (komunikasi dari orang-orang yang sama tingkatnya dalam organisasi)

       Keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan evaluasi program.

2.     Menurut Katz dan Kahn, Komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam organisasi.

3.     Menurut Zelko dan Dance, Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang saling tergantung mencakup komunikasi internal dan komunikasi eksternal.

4.     Menurut Thayer Dia, memperkenalkan tiga sistem komunikasi dalam organisasi, yaitu:

       Berkenaan dengan kerja organisasi seperti data mengenai tugas-tugas atau beroperasinya organisasi;

       Berkenaan dengan pengaturan organisasi seperti perintah, aturan dan petunjuk;

       Berkenaan dengan pemeliharaan dan pengembangan organisasi (hubungan dengan personal dan masyarakat, pembuat iklan dan latihan).

5.     Menurut Greenbaunm, Bidang komunikasi organisasi termasuk arus komunikasi formal dan informal dalam organisasi. Dia membedakan komunikasi internal dengan eksternal dan memandang peranan komunikasi terutama sebagai koordinasi pribadi dan tujuan organisasi serta masalah menggiatkan aktivitas.

  1. Definisi dan Konsep Kunci Dari Organisasi

Komunikasi organisasi biasanya terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri, baik internal maupun eksternal. Alur komunikasi biasanya meliputi pesan dan arusnya (tujuan, arah dan media); meliputi orang  (sikapnya, perasaannya, hubungannya dan keterampilannya). Dari penjelasan tersebut terdapat beberapa konsep kunci dari organisasi, yaitu: 

       Proses

Proses pada suatu organisasi merupakan suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan anggotanya saling menukar pesan. Karena adanya proses menciptakan dan menukar pesan maka akan terus berjalan tanpa henti dan dikatakan sebagai suatu proses.

       Pesan

Pesan merupakan sebuah simbol yang memiliki arti didalamnya terkait obyek, kejadian yang dihasilkan dari proses interaksi dengan orang lain. Dalam melakukan komunikasi, kita mempelajari pertukaran pesan dalam seluruh organisasi. Pesan dalam organisasi dapat dilihat menurut beberapa klasifikasi yang berhubungan dengan bahasa, penerima, metode difusi dan arus tujuan dari arah pesan.

       Jaringan Organisasi

Jaringan organisasi terdiri dari satu tipe orang yang masing-masing mempunyai posisi dan peranan tertentu dalam  organisasi dengan melakukan pertukaran pesan melalui jaringan komunikasi. Hakikat dan luas jaringan ini dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi jaringan komunikasi, seperti hubungan peranan, arah arus pesan dan isi pesan.

       Keadaan Saling Tergantung

Keadaan saling tergantung antara satu bagian dengan bagian lainnya menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila ada satu bagian organisasi yang mengalami gangguan akan berpengaruh pada bagian organisasi lainnya dan memungkinkan seluruh sistem organisasi ikut mengalami gangguan.

       Hubungan

Konsep hubungan dari organisasi terjadinya karena organisasi merupakan sistem kehidupan sosial, maka untuk menggunakan bagian-bagian tersebut terletak di tangan manusia. Oleh karena itu, hubungan manusia pada organisasi lebih terfokus pada hal-hal yang harus dipelajari seperti tingkah laku komunikasi dari orang-orang yang terlibat dalam suatu hubungan.

 

       Lingkungan

Lingkungan diartikan sebagai semua totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan terkait pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem. Lingkungan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal mencakup karyawan, golongan fungsional dari organisasi, komponen organisasi lainnya, seperti tujuan, produk atau jasa, dan sebagainya.  Sedangkan lingkungan eksternal mencakup pelanggan, kompetitor, teknologi dan sebagainya.

       Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan perbedaan informasi yang sudah ada dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi resiko ketidakpastian, organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, penelitian, pengembangan organisasi dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks dengan integritas yang tinggi.

 

  1. Fungsi Komunikasi Organisasi

a.     Fungsi Informatif

Organisasi dipandang sebagai suatu sistem proses informasi, artinya seluruh anggota dalam suatu sistem organisasi diharapkan bisa memperoleh informasi yang lebih banyak dan lebih tepat.

b.     Fungsi Regulatif

Fungsi regulatif biasanya berhubungan dengan peraturan-peraturan yang berlaku di dalam suatu organisasi. Ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu

1.     Atasan atau orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki hak terkait semua informasi yang akan disampaikan.

2.     Berkaitan dengan pesan atau message pesan , pesan-pesan regulatif biasanya berorientasi pada kerja.

c.     Fungsi Persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak selalu membawa hasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu, banyak atasan yang lebih memilih mempersuasi karyawannya daripada memberi perintah.

d.     Fungsi Integratif

Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang akan mendorong karyawannya agar dapat melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan baik.

  1. Pendekatan Komunikasi Organisasi

Pendekatan komunikasi organisasi biasanya digunakan untuk melihat bagaimana kondisi komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Ada 3 pendekatan komunikasi organisasi, yaitu:

1.     Pendekatan Makro, pada pendekatan makro organisasi dilihat sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, organisasi melakukan aktivitas tertentu seperti:

       Memproses informasi dan lingkungan

       Mengadakan identifikasi

       Melakukan integrasi dengan organisasi lain

       Menentukan tujuan organisasi

2.     Pendekatan Mikro, pendekatan ini lebih mengutamakan komunikasi dalam unit dan sub-unit pada suatu organisasi. Pada tingkat ini, komunikasi yang diperlukan adalah komunikasi antar anggota kelompok seperti:

       Komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan

       Komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok

       Komunikasi untuk menjaga iklim organisasi

       Komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaan

       Komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasi

3.     Pendekatan Individual, pendekatan ini berpusat pada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada pendekatan Makro dan Mikro diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Beberapa bentuk komunikasi individual:

       Berbicara pada kelompok kerja

       Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapat

       Menulis dan mengonsep surat

       Berdebat untuk suatu usulan

  

BAB 4

     TEORI-TEORI ORGANISASI

 

  1. Pengertian Teori Organisasi

Teori organisasi yaitu ilmu yang mempelajari struktur dan desain organisasi. Teori organisasi mengarahkan pada aspek-aspek deskriptif maupun perspektif dari disiplin ilmu. Teori itu menjelaskan bagaimana organisasi sebenarnya bisa menawarkan tentang bagaimana organisasi dapat dikonstruksi dengan tujuan meningkatkan efektivitasnya. Teori organisasi menggambarkan studi tentang bagaimana banyak organisasi menjalankan tugasnya dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang yang sedang bekerja di dalamnya.

Menurut Hodge dan Anthony, teori organisasi merupakan sekelompok konsep, prinsip-prinsip dan hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan komponen-komponen organisasi dan bagaimana komponen-komponen tersebut berperilaku. Hal ini berarti teori organisasi berguna untuk memahami apa itu organisasi dan bagaimana organisasi berhubungan dengan lingkungannya.

  1. Teori Klasik

Teori organisasi klasik merupakan teori yang berkembang mulai 1800 an abad ke-19, teori ini disebut juga teori tradisional atau teori mesin. Pada masa ini, teori organisasi digambarkan sebagai kelompok orang yang membentuk lembaga. Pada tiap bagian organisasi memiliki spesifikasi dan sentralisasi dalam tugas dan wewenang. Disebut teori mesin katrena organisasi ini menganggap manusia sebagai sebuah onderdil yang kapan saja bisa dipasang dan diganti sesuai kehendak pemimpin. Organisasi menurut Teori Klasik diartikan sebagai struktur hubungan, kekuasaan, tujuan, kegiatan, peranan, komunikasi dan faktor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

Teori Organisasi Klasik sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi formal. Terdapat empat unsur pokok yang selalu ada dalam organisasi formal, yaitu:

a.     Sistem kegiatan yang terkoordinasi

b.     Kelompok orang

c.      Kerjasama

d.     Kekuasaan dan Kepemimpinan

  1. Teori Hubungan

            Teori hubungan disebut juga Teori Organisasi Neo-Klasik.Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori ini merupakan penyempurnaan teori klasik. Tokoh teori ini diawali oleh Elton Mayo (1927) yang membentuk aliran antar manusia (human relation school), yang memandang organisasi sebagai suatu yang terdiri dari tugas-tugas dari sisi manusia yang berbanding sisi mesin. Pada masa ini norma sosial kelompok merupakan kunci penentu perilaku kerja seseorang.

Munculnya teori neoklasik diawali dengan inspirasi percobaan yang dilakukan di Pabrik Hawthorne pada tahun 1924 milik perusahaan Western Electric di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset Nasional Amerika. Terkait percobaan yang dilakukan Elton Mayo seorang riset dan Western Electric, ia menyimpulkan bahwa pentingnya memperhatikan intensif upah dan kondisi kerja karyawan dipandang sebagai faktor penting peningkatan produktivitas.

  1. Teori Motivasi

Istilah motivasi tertuju pada dasar yang mendorong suatu kegiatan. Siagian (1995:137) menyatakan bahwa motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Oleh karena itu terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi seseorang yang ditunjukkan dalam menghadapi berbagai situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain yang menghadapi situasi yang sama. Motivasi merupakan hal yang penting, salah satu yang perlu diperhatikan yaitu bahwa tingkat motivasi seseorang berbeda dengan orang lain dan dalam diri seseorang pada waktu yang berlainan.

Menurut Stephen P. Robbins (2003:208) ia menjelaskan bahwa motivasi sebagai satu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan. Dari penjelasan tersebut terdapat tiga kunci utama, yakni: intensitas, arah, dan ketekunan. Intensitas, menyangkut seberapa kerasnya seseorang berusaha. Ini merupakan unsur yang paling difokuskan oleh kebanyakan orang bila kita membicarakan tentang motivasi. Akan tetapi menurut Robbins (2003), intensitas yang tinggi tidak akan membawa hasil yang diinginkan kecuali kalau upaya itu diarahkan ke suatu tujuan yang menguntungkan organisasi. Kita harus bisa mempertimbangkan kualitas dari upaya maupun intensitasnya. Upaya yang harus kita usahakan yaitu upaya yang menuju dan konsisten dengan tujuan-tujuan organisasi hingga akhirnya motivasi memiliki dimensi ketekunan.

  

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arie Ambarwati. (2018, February 1). PERILAKU DAN TEORI ORGANISASI. Media Nusa Creative. https://dspace.hangtuah.ac.id/xmlui/bitstream/handle/dx/747/Perilaku%20Dan%20Teori%20Organisasi.pdf?sequence=1&isAllowed=y

DELPI SUSANTI. (2022, September 6). PERKEMBANGAN TEORI ORGANISASI KLASIK, NEO  KLASIK, MODERN, POST MODERN DAN KONTEMPORER. UNIVERSITAS RIAU, 1–17.

Fithriyyah Mustiqowati Ummmul. (2021, January 8). Dasar-Dasar Teori Organisasi. IRdev Institute. https://repository.uin-suska.ac.id/59799/1/Dasar-Dasar%20Teori%20Organisasi.pdf

Hariyanto D. (2021). Buku ajar pengantar ilmu komunikasi. Umsida Press.

Hidayati, L. N. (2010). Komunikasi Organisasi dan Manajemen Konflik. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1–17.

Oviva Tidal Jumrad, & Ira Dwi Mayang Sari. (2019). FUNGSI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI MELALUI GROUP CHAT WHATSAPP ORIFLAME. Jurnal Common, 3, 104–114.

Susanty, A. , & Hidajat, U. B. (2012). Korelasi Antara Posisi Elemen-Elemen Organisasi dengan Terwujudnya Karakter Good Corporate Governance. Jurnal Teknik Industri Undip, 3, 118–129.

Kadji, Y. (2012). Tentang teori motivasi. Jurnal Inovasi, 9(01).


 

    LAMPIRAN